Canduang Tercinta

Pada tanggal 10 Mei 2010,walau hanya beberapa jam saya berada di kampuang kelahiranku Canduang. Tapi pulkam ini sangat memberi arti dalam hidupko.

Alhadulillah sempat berziarah kekuburang Apak jo Biai di Labuhan Pantai V Suku Canduang.

Beberapa foto yang terekam, terutama di Bukik bulek akan ku posting selanjutnya.

Salam
DM St Parapatiah

Songket Canduang Terbaik diDunia

Songket Canduang Terbaik di Dunia

http://melayuonline.com/ind/news/read/5713/songket-canduang-tersimpan-di-museum-california

Surau

Oleh : Nelson Alwi
Sabtu, 20 September 2008 ( Suara Karya )

EKSISTENSI atau pun sumbangsih surau bagi keselarasan (ke)hidup(an)
sosial-keagamaan masyarakat Minang, tak bakalan tergerus dari
ingatan. Ya, surau pernah berperan besar lagi sangat signifikan
sekali. Selain sebagai tempat beribadah, surau berfungsi menampung
kakek-kakek uzur tiada berdaya, para duda, musafir atau anak dagang,
apalagi anak-anak serta remaja yang hendak menuntut ilmu: dunia dan
akhirat.

Di surau, seorang anak -terutama remaja putra akilbalig- tidak hanya
diwajibkan mengaji-mendalami Al-Quran atau mempelajari seluk-beluk
agama Islam, tetapi juga dibekali ilmu bela diri pencak silat maupun
kesenian dan, secara tidak langsung dilatih menyimak dan menuturkan
sebuah cerita berikut berbagai pengalaman sehari-hari di samping
belajar mendiskusikan permasalahan hidup dan kehidupan yang serba
komplit.

Pendek kata memang demikian situasi dan arti keberadaan surau,
setidaknya, pada beberapa dekade akhir abad XIX hingga penggalan
kedua abad ke-20. Tak heran kalau dari surau kemudian muncul banyak
tukang kaba yang piawai berkisah, yang keprofesionalannya
diperhitungkan di berbagai ajang seperti acara “alek nagari”, pesta
perkawinan, khitanan dan juga di stasiun-stasiun kereta api atau di
lepau-lepau kopi. Artinya adalah, surau turut serta
mengukuhkembangkan tradisi sastra(wan) lisan Minangkabau.

Bahkan ada yang mengklaim, bahwa benang merah peralihan dari sastra
lisan ke sastra tulis pada etnik yang tak punya aksara ini, bisa
ditelusuri melalui sejarah pertumbuhan pendidikan surau. Orang-orang
surau, pada kurun tertentu, dengan gemilang berhasil membudidayakan
huruf Arab -menjelma menjadi aksara Arab-Melayu- untuk
mengkonkretkan buah pikiran mereka dalam bentuk tulisan atau buku.
Dan sebagaimana diketahui, setelah mengenal huruf Latin, sederetan
panjang (nama) pengarang asal daerah ini eksis mendominasi paling
tidak tiga dekade awal blantika kesusastraan Indonesia modern.

Lebih jauh dapat dikatakan, hampir semua tokoh kenamaan di berbagai
bidang mengawali segalanya di dan dari surau. Sebutlah umpamanya
para intelektual (ekonom, ahli hukum, politikus, jurnalis,
sejarawan, negarawan maupun diplomat ulung) sekaliber H Agoes Salim,
Bung Hatta, M Yamin, Adinegoro, Natsir, Hamka dan lain sebagainya.
Demikian pula dengan tokoh pembaharu pelopor Sumatera Thawalib
seperti H Abdul Karim Amrullah alias Inyiak Rasua (yang juga dikenal
sebagai Doktor HC pertama di Indonesia) dan Zainuddin Labay El
Yunusi, atau Abdullah Ahmad pendiri perguruan Adabiah -ketiganya
murni berpendidikan surau dan, untuk sekian lama mengajar atau
berkiprah di Surau Jambatan Basi Padang Panjang.

Ya. Pada masanya, kehidupan institusi (ke)surau(an) di Ranah Minang
tampak begitu bergairah. Surau senantiasa membuka pintu selebar-
lebarnya buat semua orang. Surau berhasil menyalurkan aspirasi para
orangtua. Surau menjadi tumpuan harapan masyarakat Minang. Agaknya,
tak ada “urang awak” yang tak pernah bersentuhan dengan surau.

Ironinya, kenapa tradisi kesurauan yang terang-terangan bermanfaat
dan berhasil melahirkan sejumlah figur kharismatik bertaraf (inter)
nasional itu sirna dan, tidakkah seyogianya dihidupkan saja kembali?
Tak berlebihan kiranya kalau muncul kesadaran dan pemikiran yang
mengusik seperti itu, yang kemudian mengental setelah melihat
kenyataan semakin minimnya orang Minang yang berprestasi dan sukses
di forum-forum bergengsi lagi menentukan, semakin tipisnya pemahaman
(ber)agama dan kian merosotnya rasa serta nilai-nilai
keminangkabauan di tengah masyarakat.

Nah. Tetapi menurut hemat saya, kerisauan maupun keprihatinan atau
katakanlah persoalan orang Minang saat ini takkan selesai dengan
hanya mendengung-dengungkan tradisi kesurauan melalui
wacana “kembali ke surau”. Dengan kata lain, idiomatik “kembali ke
surau” yang beberapa waktu berselang santer diteriakkan sebagian
orang Minang (baca: para sentimentalis-konservatif) memang tidak
lebih dari semacam jargon yang, kini benar-benar sudah kehilangan
gaung.

Seperti dan atau bagaimana surau yang dimaksud/diprogramkan itu
memang belum jelas rumusan dan duduk-tegaknya. Setidaknya saya
membayangkan sebuah surau yang lengkap dengan fasilitas modern
seperti perpustakaan, sarana dan prasarana olah raga, peralatan
musik, televisi, komputer serta pe-es yang game-gamenya bernuansa
Islam(i), sehingga anak-anak maupun remaja betah.

Kecuali itu, kalaulah kita mencoba membolik-balik lembaran masa lalu
bangsa ini, akan ditemui sesuatu yang mencengangkan, yang bisa jadi
dicap sebagai tesis atau analisis yang harus dibuktikan
kebenarannya.

Politik atau sistem pemerintahan yang diterapkan kolonialisme
Belanda selama berabad-abad begitu membelenggu bangsa Indonesia,
termasuk etnik Minangkabau. Dan ini, lambat-laun membuat kalangan
bernalar tinggi sadar, bahwa kalau ingin maju dan merdeka kita musti
berani menentukan sikap. Dalam segala hal kita tidak perlu
tergantung pada penguasa lalim yang senantiasa membatasi ruang gerak
kita di Tanah Air sendiri, terutama hak untuk memperoleh pendidikan
(formal).

Lantas, mereka yang memahami pentingnya pendidikan dan ilmu
pengetahuan pun melirik dan berbondong-bondong mendayagunakan surau,
yang kala itu merupakan salah sebuah (atau mungkin satu-satunya)
alternatif paling aman. Surau toh merupakan lembaga agama dan produk
budaya asli yang relatif steril dari campur tangan pemerintah Hindia
Belanda.

Dengan demikian jelaslah, pada satu kurun waktu tertentu orang-orang
sadar, cerdas dan bersemangat pergi dan menimba ilmu di surau-surau.
Komunitas atau masyarakat surau bukan hanya terdiri dari orang-orang
yang “berputus-asa”. Pamor surau tidak identik lagi dengan orang tua
uzur, para duda, remaja tanggung, orang kemalaman dan
keserbalusuhan “pakiah” (santri): memakai peci yang sudah memudar,
baju gunting cina, berkain sarung, kemana-mana menyandang buntil(an)
beras dan kotak wakaf, berjalan atau berujar membungkuk-bungkuk dan
tidak berani menatap mata lawan bicara yang kelihatan lebih “wah”.

Jadi, bicara tentang “kejayaan” (pendidikan) surau adalah menyangkut
situasi dan kondisi zaman semata, yang tidak boleh tidak menuntut
konsekuensi logis dalam hal memilih yang dirasa paling baik dan
efektif.

Sekadar berargumen, setelah bangsa Belanda angkat kaki dari negeri
ini orang Minang seolah-olah “membelakang” ke surau. Para orangtua,
dan begitu pula dengan anak-anak tergolong pintar punya
kecenderungan kemodernan lahiriah dalam bentuk mengutamakan
pendidikan yang dilaksanakan di gedung-gedung mentereng yang
berorientasi ke dunia belahan Barat yang, walau bagaimanapun, memang
lebih menjanjikan dan menawarkan harapan-harapan (bersifat) duniawi.

Dan dewasa ini sosok surau mengedepan memperlihatkan wujud dan corak
tersendiri. Di pedesaan surau sering dimanfaatkan oleh para remaja
yang suka begadang. Sementara di wilayah perkotaan, surau pada
umumnya ditangani garin alias mahasiswa “praktik” yang sedang
menuntut ilmu di perguruan tinggi berbasis (agama) Islam untuk
kemudian hengkang setelah meraih gelar sarjana guna mencari
pekerjaan yang dipandang lebih baik. Namun, kendati surau seolah
tidak bisa lagi memposisikan diri sebagai sentra sosio-kultural
berorientasi (ke)agama(an), satu hal, surau tetap merupakan tempat
beribadah: sembahyang dan mengaji.***

* NELSON ALWI, Budayawan, tinggal di Padang

Ranji Guguak Tabek Sarojo

Mak Ngah Menulis:

Tahun 1963-66 seorang Amerika, anthropologist Ms. Nancy Tanner, MA mamparajai Budaya Minangkabau dalam rangka studinyo untuk manyalasaikan PhD di UCB, (University of California Berkeley).

Salah satu proyeknnyo iyolah manfokuskan studinyo di Guguak, tapeknyo di Guguak Tinggi nan disabuik juo Guguak Tabek Sarojo di Ampek Koto, Agam Tuo.

Salah satu aktifitasnyo di Tabek Sarojo tu iyolah mambuek Ranji sacaro intensif. Dengan sagalo susah payah, dengan karajo samo jo Rang Kampuang di tiok rumah, dibantu oleh asisten-asisten risetnyo, dengan sagalo sukaduka dan anekdotnyo, Bu Nancy, baitu panggilan Rang Kampuang ka baliau, sukses dalam manjalin hubuangan persahabatan kekerabatan dengan saisi Nagari Tabek Sarojo. Buliah dikatokan pado taraf terakhir hampia seluruh Urang Guguak Tabek Sarajo lah masuak dalam Ranji sacaro detail.

Suatu hari, sasudah mangambangkan guluangan-guluangan karateh panjang, sapanjang rumah gadang, basaf-saf saroman lapiak sumbayang di surau gadang, Rang Kampuang tacangang-cangang. Baa ka indak, dalam Ranji Raksasa tu jaleh tampak bahaso hubungan Kefamilian dan Kekerabatan Rang Kampuang Tabek Sarojo tu jaleh kaik-babaik kasadonyo. Ranji nan paliang tinggi dan dalam tacatat ampek baleh katurunan.

Pado suatu hari, takana di ambo, salah seorang informan, asisten riset, tepatan dan lah manjadi kawan arek salamo tigo tahun tu, Rang Kampuang Tabek Sarojo Asli, manggauik-gauik kapalonyo. Dengan angok panjang inyo tagalak sengeng mangecekan:

“Kalau baitu, Buk Nancy,” keceknyo, “kalau kito truihkan ranji ko kateh, awak ko mungkin Sa Inyiak yo?”

Tabasuik galak Bu Nancy, nan fasih mangecek Caro Awak, “Mungkin Iyo!” keceknyo sambia maangguak-angguak ka Rang Banyak. “Sainyiak, Nyiak Adam!”

Rang Saisi Rumah samo-samo galak takekeh-kekeh riuh rendah sacaro intim lah basuo jo Dunsanak Jauah dari Subarang Lauik, lah dapek baiyo-batido jo Caro Awak di Tabek Sarojo. Ambo pun salah saurang nan hadir, maangguak-angguak galak mangkacimuih “Iyo, Awak Sainyiak, Nyiak Adam!” … :)

Sakitulah dahulu, sakadar Kenangan Mambuek Ranji di Guguak Tinggi, Tabek Sorojo. Tulisan ko juo untuak mengenang dan batarimo kasih Rang Kampuang Tabek Sarojo nan sangat ramah bakarajo samo dan elok hati ka Dunsanak Jauah dan asisten-asistennyo. Baitu juo untuak mengenang Almarhumah Dr. Nancy Tanner nan lah maningga tahun 1989 di Phunix, Arizona dan dimakamkan di Santa Cruz, California.

Salam,

– Sjamsir Sjarif

MARI KITO; NAMO; Agam, IV Angkek

Takana di ambo, sanada jo gala Dt. Mahoyak Bumi jo Dt. Mangguncang Dunie ko, dahulu 50 tahun nan lalu, ambo panah basuo jo Pak Dt.

Gampo di Cupak, Kacamatan Talang, Solok.

Satantangan Dt. Rajo Agam, ruponyo ado duo pulo. Nan ambo tahu Dt.

Rajo Agam di Lambah. Sawah-sawah Dt. Rajo Agam ko ado sakitar rumah pondok Amak ambo sakitar “Sicamin” jo “Gaduang Batu”. Bahkan takana di ambo ado pulo Pincuran nan banamo “Sungai [Pincuran] Agam” dakek Gaduang Batu tu. Indak tahu urang kini lai adonyo Pincuran Agam tu.

Kok diagak-agaki, latak Rumah Pondok Amak ambo iyo di tangah-tangah Ampek Angkek tu Bana, [bahkan di tangah-tangah Agam Tuo], samo jarak ka bateh-bateh Ampek Angkek: Ka Ilia ka Kubu jo Surau Labuah di Panampuang (bateh jo Salo Kotobaru, Tilatang Kamang). Ka Mudiak ka Cangkiang jo Kubu Apa, bukik Batabuah. Ka Ujuang ka Kubu (bateh Canduang). Ka puun ka Kubu Tapi jo Kubu Tangah (Bateh Banuampu jo

Tigobaleh) jo Talao (bateh jo Kurai jo Tilatang Kamang).

Interestingly, bakaik-kaik jo Parang Paderi, ado duo Benteng Bulando maapik dakek Rumah Amak ambo. Sabalah ka Ilia, benteng “Gaduang Batu” (Biaro) nan ado pulo “Sawah ‘Ntata” sabalajh ka ujuangnyo tampek Saradadu Bulando manata-nataan badia. Sabalah ka Mudiak ado “Gaduang Balai Barambai” (di Kototuo).

Labiah pantiang lai ado Tampek Bersejarah untuak Urang Ampek Angkek banamo “Guguak Sikanga”. Indak banyak urang kini nan tahu. Di Sinanlah pado pado Maso Bulando awal abad ka-20 Urang Ampek Angkek Baralek Gadang, baSumpah Satia, SaAnak SaKamanakan, SaIlia SaMudiak, SaDantiang Bak Basi, SaCiyok Bak Ayam. “Guguak Sikanga” ko ado di Parak di Bungin. Jan kaliru, Guguak Sikanga ko indak samo jo Guguak Gadang nan tampak antaro Kototuo jo Ampanggadang-Pasia jo Cangkiang.

Dalam acara Urang Ampek Angkek Baralek Gadang tu, kabanyo Tuan Luak dan/atau Tuan Kumandua, pokoknyo Urang Pamarentah Bulando Luhak Agam di Bukiktinggi lai pulo hadir dalam Baralek Gadang di Guguak Sikanga tu.

Samantaro Angku Suryadi di Leiden, panah ambo maminta kok baliau ado mancaliak-caliak dokumen-dokumen Tuah Luak Agam pado maso awal abad 20 ko.Kok ado sabana lah batambah khazanah tertulis Sejarah Agam untuak Kito nan Basamo. Rasonyo ingin ambo malayok mangakeh-ngakeh pai ka Library di Leiden tu.

Wakatu Revolusi 1947, wakatu Ampek Angkek diresmikan manjadi “Daerah Otonomi Ampek Angkek” {istilah “daerah otonomi” nan partamu kali tadanga di Indonesia), dikapaloi oleh “Wali Otonomi Ampek Angkek”

Pak Basjaruddin, nan dibagi “30 Sidang”, Guguak Sikanga manjadi “Sidang nan ka-30 Guguak Sikanga”. Uda Ambo Sjamsuddin Sjarif Kari Maradjo manjadi Ketua Sidang, ambo manjadi Juru Tulihno.

DEek wakaktu tu maso Padang, mako istilah Ketua sidang ditambah pulo manjadi “Ketua Sidang Perang”. Sidang Guguak Sikanga manjadi tampek mandok-mandok Tantara Pejuang Revolusi wakatu itu.

Tahun 1985`wakatu Baralek Datuak Batagak Pangulu (sacaro massal, 40 Panghulu sakali ditagakkan) di Ampang Gadang diumumkan dan diparagoan adonyo Dokumen Markas Pemuda Sumatra di Padang Panjang.

Ambo kabatulan hadir pulo di sinan, incognito, jo Rombongan Gubernur (“Tuan Basa Padang”) dan Bupati (“Tuan Luhak”) jo iriang-iriangan oto lampu merah jo sarine.

Istilah-istilah Maso Bulando ko, “Tuan Basa Padang” jo “Tuan Luhak”

ko tadanga dek ambo wakatu baliau-baliau sandiri manyabuikkan panggilan/imbauan sambia bagarah satu samo lain. Di sinan pulo ambo mancaliak partamu kali baa “Tari Galaombang” dipasambahkan manyambuik Rombongan “Tuan Basa Padang” ko. Kapalo Anak-anak Tari

(Silek) Galombang jo jari nan sapuluah {sabana “sabaleh jo kapalo”) iyo bana mandakok ka tanah ka padang nan baspaneh, mandakek ka Kaki Tuan Basa Padang ko…

Sakitulah dahulu sabagai sabingkah sejarah kenangan lamo.

Salam,

–MakNgah

Sjamsir Sjarif Saidi Maradjo

Masjid Bingkudu di Candung, Kabupaten Agam

Mulai ”Tergusur” Perkembangan Zaman
Menyigi Masjid-masjid Bersejarah yang Hampir ”Terlupakan”

Masjid Bingkudu di Candung, Kabupaten Agam

Keberadaan Masjid tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Minangkabau. Sebab sebagai salah satu tempat ibadah, masjid merupakan bangunan suci yang mesti ada pada suatu daerah ataupun perkampungan yang berpenduduk muslim.

Sampai saat ini, jumlah masjid yang tercatat di Departemen Agama Provinsi Sumbar, sekitar 5.682 unit. Dari jumlah itu, cukup banyak masjid-masjid bersejarah, bahkan berumur ratusan tahun, yang nyaris terlupakan. Karena di samping gencarnya pembangunan masjid-masjid baru, kurangnya perawatan dan renovasi, membuat “surau-surau” tua itu tenggelam dimakan usia.

Padahal dulu, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan tempat  belajar. Tak jarang, para alim ulama, cerdik pandai, dan tokoh-tokoh besar negeri ini lahir dididik di masjid. Mulai dari belajar tentang agama, adat istiadat, ilmu beladiri silat, tempat musyawarah, serta banyak kegunaan positif lainnya.

Jadi saat itu, masjid tidak saja diramaikan golongan tua-tua saja, tetapi merupakan tempat berkumpul anak-anak muda. Bahkan para lelaki Minangkabau juga memiliki pantangan tidur di rumah setelah mulai baligh. Rumah hanya di tempati pada siang hari, setelah sekolah dan menolong orangtua, biasanya “bujang-bujang” Minangkabau melanjutkan aktivitasnya di masjid.

Sesuai dengan falasafah yang dipegang teguh masyarakat “Adat Basandi Sara’ Sara’ Basandi Kitabbullah’, maka tak urung lagi, bahwa sejak dulu penduduk Minangkabau dikenal sebagai orang yang taat beragama dan teguh memegang adat. Namun kalau nostalgia itu dibawa pada kondisi sekarang, sepertinya tinggal sedikit yang tersisa.

Akan sangat jarang sekali, ditemukan anak muda yang tidur di surau, mempelajari agama, menghidupkan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Atau sedikit sekali terlihat orangtua yang menyuruh anak-anaknya menjadi remaja masjid, yang selalu ke masjid untuk beribadah dan belajar. Tetapi tidak akan sulit menemukan mereka di tempat-tempat hiburan, plaza-plaza, supermarket, serta pusat-pusat keramaian lainnya.

Apakah masjid di Sumbar ini sudah mulai “lapuk”, tergerus seiring perkembangan zaman? Lapuk, di sini tentu mempunyai pengertian yang cukup luas, tidak saja lapuk pada tatanan fisik, tapi juga “lapuk” dalam aspek nonfisik. Dan yang cukup memilukan adalah masjid-masjid yang lapuk, kedua-duanya, fisik dan non fisik.

Dari penelusuran Padang Ekspres, bersama Padang TV pada beberapa daerah di Sumbar, ternyata cukup banyak ditemukan kondisi masjid yang kurang mendapat perhatian. Seperti Masjid Syech Daud, yang terletak di Nagari Malampah Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman Barat. Masjid yang mempunyai nilai sejarah cukup tinggi ini, nyaris terlupakan keberadaannya. Padahal, masjid yang didirikan pada tahun 1890, mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan ajaran Islam di daerah tigo nagari.

Nama Syech Daud sendiri, diambil dari nama pendiri masjid, yaitu seorang ulama besar Sumbar, yang berasal dari Nagari Malampah. Ada hal cukup unik terlihat, saat masuk ke dalam masjid yang terdiri dari 10 buah tiang, 6 jendela. Dimana akan ditemukan bendera merah putih terpasang di sekeliling dinding masjid. Menurut cerita masyarakat sekitar, bendera tersebut dijahid murid-murid Syech Daud. Namun sayangnya sampai kini tidak ada masyarakat yang mengerti makna pemasangan kain merah putih itu.

Menurut Abdullah Hukum, ulama pada daerah Durian Gunjo, bendera itu sudah terpasang sejah tahun 1926. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia di proklamirkan, bahkan dua tahun sebelum pelaksanaan kongres pemuda pertama tahun 1928. “Kain merah putih itu di pasang dua lapis. Bahagian luarnya memang sudah agak kusam, tetapi yang di dalam masih bewarna terang. Namun sayang kami tidak mengetahui makna dari pemasagan kain yang menyerupai bendera merah putih,” katanya.

Masjid yang telah berumur lebih dari satu abad ini kendatipun masih terlihat kokoh, namun dinding dan tiang-tiangnya sudah mulai lapuk dimakan usia. Sedangkan masyarakat dengan swadaya sendiri hanya mampu memelihara seadanya. Sampai sekarang aktivitas keagamaan pada masjid satu-satunya di Jorong Siparayo, Durian Gunjo tetap berlanjut. Seperti untuk shalat Jumat, wirid, pengajian, tadarus, ataupun untuk shalat tarwih.

“Agar masjid ini senantiasa terawat dan terjaga, kami sangat mengharapkan uluran dari semua pihak. Sehingga keaslian dan nilai sejarah yang dimiliki masjid ini tidak tenggelam seiring dengan waktu,” ucap Wali Nagari Malampah, Asri Nur yang waktu itu ikut menemani.

Selain di Pasaman, pada Nagari Candung, Kecamatan Agam juga terdapat sebuah masjid kuno, yang masih bisa dinikmati sampai saat ini, yakni Masjid Bingkudu. Menurut cerita masyarakat sekitar, masjid ini dibangun pada tahun 1813 yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh tujuh nagari. Ketujuh nagari itu adalah Canduang, Koto Lawas, Lasi Mudo, Pasanehan, bukit batabuah, Lasi Tuo.

Masyarakat secara bersama-sama membangun masjid seluas 21 x 21 M dengan tinggi 37,5 meter ini. Menariknya hampir semua material yang pergunakan untuk membuat tempat beribadah ini berasal dari kayu, baik lantai, dinding, maupun tiang-tiangnya. Sedangkan atapnya yang berundak tiga, terbuat dari susunan ijuk.

Bangunan ini saat didirrikan memakai sistem pasak. Artinya tidak satupun dari komponen penyusun masjid ini yang dilekatkan satu sama lain dengan menggunakan paku. Lampu-lampu minyak yang yang terpajang pada setiap sudut masjid rata-rata juga sudah menjadi barang antik, karena telah berumur ratusan tahun.

Pekarangan di sekitar masjid cukup indah. Tiga kolam ikan, serta satu kolam besar untuk berwudhuk membuat kesan masjid yang cukup jauh dari pemukiman penduduk itu semakin alami. Dulunya air untuk berwudhuk dialirkan dengan bambu sepanjang 175 meter dari kelurahan. Namun sekarang untuk memperlancar aliran air, salurannya diganti dengan pipa besi.

Selain itu, pada pekarangan masjid juga terdapat sebuah menara denga ketinggian 30 meter. Seperti kebanyakan masjid yang ada, menara ini digunakan untuk mengumandangkan azan, terutama saat belum ada pengeras suara. Sementara di halaman masjid terdapat makam Syech Ahmad Thaher, pendiri sekolah pendidikan Islam yang lebih dikenal dengan MUS (Madrasah Ulumi Syriah). Ia meninggal sekitar 13 Juli 1960.

Pada tahun 1957, atap masjid yang terbuat dari ijuk, diganti masyarakat dengan seng. Itu dilakukan karena ijuk yang yang mengatapai ruangan masjid dari hujan dan panas telah lapuk. Dua tahun kemudian dilakukan renovasi dan pemugaran terhadap bangunan masjid yang lainnya.

Menurut Kepala KUA Candung, Ramza Husmen yang ikut langsung meninjau Masjid Bingkudu mengatakan pada tahun 1999, masjid ini diserahkan kepada Pemkab Agam, dan ditetapkan sebagai salah satu bangun cagar budaya di Agam. Dua tahun setelah itu, masjid mengalami pemugaran secara keseluruhan. “Atapnya yang dulu seng dikembalikan ke ijuk. Kemudian bagian-bagian yang lapuk diganti dan serta dicat lagi sebagaimana aslinya,” kata Ramza.

Aktivitas keagamaan tetap berlangsung di tempat ini. Baik untuk shalat berjamaah setiap hari, shalat Jumat, serta ibadah lainnya. Apalagi saat bulan Ramadhan kali ini, intensitas kunjungan masyarakat terhadap masjid sangat tinggi. Hanya saja seperti yang diingikan warga, perhatian pemerintah berlangsung secara kontiniu.

Seperti sekarang beberapa bagian dari bangunan pasca direnovasi tahun 1992, juga haru mendapat pembenahan lagi. “Warga juga telah melakukan perbaikan, tetapi memang semampunya. Kami ingin masjid ini bisa dinikmati sampai kapanpun sebagai tempat beribadah,” pungkas Ramza.

Di Kota Padang, selain Masjid Raya Gantiang juga terdapat masjid kuno lainnya yang didirikan sekitar tahun 1750 M. Masjid yang berada di sekitar kawasan Batang Arau itu bernama Masjid Nurul Huda. Batang Harau sejak ratusan tahun lalu memang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Sampai saat ini pun kita masih bisa melihat deretan bangunan-bangunan kuno yang berjejer sepanjang sisinya.

Masjid ini sepertinya hampir luput dari perhatian warga Kota Padang. Setelah ratusan tahun berada di hiliran Batang Arau, memberikan pengajian pada warga sekitar, namun sampai sekarang belum masuk dalam salah satu cagar budaya, di Kota Padang.

Ini mungkin terjadi, karena bangunannya sudah tidak asli lagi. Memang, sejak tahun 1960-an bangunan asli Masjid Nurul Huda yang berbahan kayu diganti dengan semen. Sama seperti fungsi masjid pada zaman dulu, selain tempat beribadah, juga sebagain tempat menimba ilmu.

Cukup banyak imam-imam langsung mengajarkan agama kepada di masjid ini, terakhir adalah Imam Abdul Wahab. Hingga akhir hayatnya pada tahun 1940, imam yang lahir tahun 1880 ini mengabdikan dirinya untuk mengajarkan Islam kepada  masyarakat, terutama tentang masalah ketauhidan.

Usman rajo Lelo (80), salah seorang anak didik Imam Abdul wahab yang masih hidup saat ini, mengaku masih mengingat jelas cara mengajar yang diterapkan Imam Abdul Wahab. “Kami belajar mengaji setiap selesai Shalat Magrib hingga selesai waktu shalat Isya. Cara imam mengajar kami sangat khas. Setiap ayat-ayat Alquran dilantunkan dengan irama yang menawan. Sehingga anak-anak yang belajar saat itu sangat menyenangi pelajaran mengaji. Setelah mengaji para anak laki-laki belajar silat hingga tengah malam,” terang Usman.

Dengan jumlah masjid di Sumbar yang mencapai 4.682 unit, masjid-masjid kuno yang mempunyai nilai penting baik dari segi sejarah dan pengembangan Islam, tentu tidaklah seberapa. Namun kesadaran semua pihak untuk melestarikan dan memberdayakan masjid yang ada adalah keharusan.

Di sisi lain, kembali ke masjid harus diarifi semua tidak saja dengan ucapan tetapi juga perbuatan. Yakni menjadikan masjid sebagai tempat belajar dan sumber ilmu. Pengembangan perpustakaan masjid, pendirian pusat-pusat kajian Islam, mengharuskan setiap masjid memiliki TPA dan TPSA, merupakan hal yang harus dilakukan. Kalau tidak, masjid tentunya akan “lapuk” tidak saja ditelan waktu, tetapi juga ditelan perkembangan zaman. (ak/mg7/tim padang tv) <!–[if gte mso

Lovely Minangkabau

Ranah Minangkabau dikenal sebagai daerah yang beralam indah dan berbudya unik dan tinggi. Penduduknya yang memegang adat istiadat dengan tulus serta beragama Islam dengan benar. Minangkabau adalah daerah yang patut dikunjungi oleh siapa saja yang ingin menemukan kesejukan dan ketenangan baik secara lahiriah maupun bathinniyah.

Visit the mother land Minangkabau 2009.Lovely Minangkabau

Paderi

PADRI


PERANG Padri tak dimulai dari titiknol. Sewaktu saya kecil, yang saya baca hanyalah cerita tentang Imam Bonjol yang melawan para pendukung adat yang dibela Belanda. Setelah mulai tua, saya baca kisah tentang Tuanku Nan Rinceh, yang kurus tapi dengan matamenyala bagai api.

Ia muncul dalam arena konflik sosial yang melanda Minangkabau sejak awal abad ke 19. Ia muncul dan ia mengagetkan.

Di daerahnya di Bukit Kamang yang tinggi, ia memaklumkan jihadnya seperti pedang berkilat. Merasa ia harus memberi contoh bagaimana ajaran agama mesti ditaati tanpa ditawar, konon ia membunuh saudara ibu kandungnya. Wanita itu seorang pengunyah tembakau.

Masyarakat yang ingin ditegakkan Tuanku Nan Rinceh memang masyarakat yang ideal: tak ada orang menyabung ayam, minum tuak, atau mengisap candu. Tak ada orang memakan sirih. Pakaian putih-putih haru dikenakan, dan kaum pria haru mengikuti Nabi: membiarkan diri berjanggut. Wanita haru bertutup muka, tak boleh memakai perhiasan. Kain sutera harus dijauhi. Syariat Islam harus dijalankan, dan siapa yang tak taat dihukum.

Memang, ada pengaruh gerakan Wahhabi, yang waktu itu sedang naik pasang di sekitar Mekkah, dalam semangat Tuanku Nan Rinceh itu. Lurus, sederhana, menuntut sikap yang serba murni. Tapi zaman tampaknya menghendaki semangat yang lempang dan puritan. Tuanku Nan Rinceh, mungkin “ekstrem”, bukan fenomena yang tersendiri.
Tak berarti ada persekongkolan di manamana. Sejarah umat Islam adalah sejarah tentang perbedaan-perbedaan, dan kita bisa sesat bila tak memandangnya secara demikian. Gerakan “pemurnian” di Bukit Kamang itu toh akhirnya bentrok dengan gerakan Islam di
tempat lain. Khususnya dengan seruan “kembali ke syariat” yang sejak akhir 1700 dibawakan oleh Tuanku Nan Tua dari Kota Tua di wilayah Agam.

Sengketa itu sengit. Setelah gagal mempertemukan pendapat dalam suatu pertemuan, Tuanku Nan Rinceh pun menarik garis Orang alim tua dari surau tarikat Syattariyah itu, Tuanku Nan Tua, yang mengutip pelbagai ayat Quran untuk menunjukkan bahwa Nabi pada dasarnya mengenggani kekerasan, kemudian dicemooh sebagai “Rahib Tua”. Muridnya, Jalaluddin, yang mendirikan dusun Muslim di Kota Lawas, dijuluki “Raja Kafir”. Lalu perang pun pecah selama enam tahun.

Apa gerangan penyebabnya? Tahun lalu terbit sebuah hasil penelitian sejarah Sumatera Barat oleh Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, sebuah studi tentang masa riuh 1784-1847. Seperti 1mpk dari judulnya, Dobbin mencoba menunjukkan maraknya api keagamaan di Minangkabau itu sebagai jawaban sosial atas perubahan ekonomi yang terjadi, ketika perdagangan kopi untuk ekspor sedang menunggu.

Ketika itulah orang-orang Minang, terutama dari daerah pebukitan, tempat kopi tumbuh mudah, menemukan dunia baru. Mereka hidup dari suatu proses jual-beli, yang jaringannya lebih luas ketimbang dusun sendiri – suatu jarimgan yang tentu saja impersonal. Adat setempat yang mengatur hubungan-hubungan lokal karena itu tak lagi memadai.

Tak mengherankan bila para penghulu, yang lazim memecahkan sengketa sosial dengan memakai pedoman aturan setempat, jadi repot. Dalam keadaan sedemikian, ketika hukum tak lagi cukup, sementara perkara yang harus dihakimi bertambah rumit dan
banyak, surau pun tampil sebagai alternatif. Hukum Islam, yang diturunkan di Mekkah di Dsuatu masyarakat pedagang, memang memungkinkan itu: la tldak asmg dengan kasus-kasus yang muncul setelah kegiatan komersial berkembang cepat.

Tuanku Nan Tua sendiri bahkan ikut aktif dalam kegiatan itu – dan sukses. Suraunyapun giat menyerukan agar orang berpegang hukum Islam dalam menyelesaikan soal-soal perniagaan. Tak ayal, syekh dari surau Syattariyah ini pun dianggap pelindung para
pedagang.

Tapi dalam keadaan yang lebih makmur itu pula orang berkesempatan berfoya-foya. Hampir di tiap pasar orang mendirikan gelanggang sabung ayam, sementara tuak dan candu dengan leluasa diedarkan. Semua tingkah ini jadi tambah mencolok buruknya bagi orang ramai, ketika semangat pedagang hemat, bersahaja, ulet) tengah berblak. Maka, terhadap kemaksiatan inilah surau-surau angkat suara – dan akhirnya angkat senjata.
Kaum Padri, juga Tuanku Nan Rinceh, pada dasarnya meneruskan semangat itu. Dan dalam banyak hal mereka berhasil. Desa yang dibangun Haji Miskin pada tahun 1811, misalnya, di Air Terbit, di lereng Gunung Sago, adalah contoh desa yang teratur serta
makmur. Bahkan orang Belanda juga mengakui hal itu.

Namun, sayang, tak sepenuhnya masyarakat ideal yang dikehendaki bisa bertahan. Kaum Padri sendiri berubah. Di Pandai Sikat orang-orang desa mulai kembali makan sirih dan merokok, pakaian wanita tak jadi setertutup dahulu. Adat setempat tak begitu saja
hilang, dan seperti halnya pihak lain, seperti halnya manusia sepanjang sejarah, kaum Padri pun akhirnya menerima kompromi. Kemurnian barangkali memang tak ditakdirkan untuk dunia yang tak kekal, tak tunggal, ini.

~Majalah Tempo Edisi. 40/XIV/01 – 7 Desember 1984~

Menyambung cerita mak Darul ttg Canduang,  disana ada iceritakan ttg bukik bulek tempat menara transmisi
telekomunikasi  trans sumatera,  saya ingin menambahkan sedikit cerita dari rang gaek kita jaman saisuak.

para tetua minang di daerah sekeliling gunung merapi,
jaman dulu pernah membuat semacam kesepakatan bersama,
bahwa bermula dari bukik bulek tsb , ditaris garis
batas  yg sejajar sekeliling pinggang gunung merapi,
yg ditandai dg jalan setapak , atau jalan inspeksi .
Berputar sejak dari bukik bulek terus ke barat arah
bagian atas lasi ( IV angkek ) , bagian atas kamang ,
terus sampai bagian atas padang luar , sarik , sejajar
dg jalan Baso - batusangkar , sampai terhubung kembali
dg jalan inspeksi di bukik bulek.

kalau di lihat peta , akan terlihat bahwa jalan
melingkar sekeliling gunung merapi, tak ada yg sampai
mendaki tinggi ke punggung gunung.

jalur sekeliling nya ( ditarik dari bukik bulek ,
utara baso ) - canduang -  lasi ( IV angkek ) ,
kamang, padang luar,sarik,
kotobaru,pandaisikek,pariangan ,
simabur,salimpaung,tigatanjung sampai ke baso lagi.

jalur inspeksi tsb, bisa di asumsikan sejajar dg jalur
jalan sekeliling gunung merapi tsb. melingkar selilit
pinggang gunung merapi.

Jalan Inspeksi tersebut jadi tanda , bahwa di atas
garis tsb ,lahan tak boleh dirambah oleh manusia, tak
boleh dijadikan sawah atau ladang , istilah sekarang
nya dijadikan lahan konservasi / hutan  lindung . Dan
hal tsb masih ditaati sampai sekarang , sehingga kita
tak temui ada perkampungan atau ladang di atas garis
jalur inspeksi tsb.

Dipikir pikir , sudah sedemikian maju dan bijaksana
nya pola pikir , orang orang minang jaman dahulu tsb ,
sampai pemikiran ttg pelestarian alam sekeliling
gunung merapi , sehingga alam dan hutan nya masih
lestari sampai saat ini .

demikian sekedar tambahan dari ambo, mungkin mamak,
dunsanak nan lain bisa manambahkan carito lamo lain
nyo, ttg bagaimana orang minang jaman dahulu menjaga
kelestarian alam nya.

wassalam 

Hendra Messa

Wisata Canduang III

Pemandangan dari Bukik Bulek
Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mari kita berkunjung sejenak ke Nagari Canduang (Koto Laweh), Lanjutan (3)
Canduang Jauah disanaKemarin telah sampai ke masjid kuno Masjid nan megah dan juga telah menelusuri persawahan bertingkat dipergunungan serta menikmati bebatuan dan air jernih di Jabua, juga telah tahu bagaimana kayu manis dikebunkan serta bagaimana hasil produksi menjadi andalan bagi petani setempat.
Kini perjalanan membelah Canduang dilanjutkan dengan sasaran Bukik Bulek, bukit yang berlokasi tertinggi dipinggang Utara Gunung Merapi. Sehingga Bukit ini dipilih oleh PT telkom untuk menempatkan salah satu dari Jaringan Microwave Sumatra-Jawa-Balinya.
Perjalan wisata yang penuh kenangan ini dimulai dari Desa Batu Tagak, dari simpang ampek didepan Pesantren Miftahul Ulumi Syariah (MUS), jalan mendatar menuju ke Timur, sebagai telah diceritakan dalam perjalanan terdahulu bahwa sekitar 250 meter akan dijumpai simpang tiga. Kekanan menuju Masjid Bingkudu. dan jalan lurus serta menurun adalah sasaran hari ini. Setelah menapak sekitar 100 meter ada lagi simpang tiga, kekiri adalah menuju umpuak Limo Kampuang, desa penuh ketenangan dan kedamaian yang berlokasi ditengah sawah tersebut adalah kampuang dimana penulis dilahirkan serta di besarkan.
Di simpang ke Limo Kampuang tadi, kita memilih jalan yang agak kekanan, menurun terus, disebelah kanan tampak diseberang tabek ikan, surau dari umpuak Surau Baru. Perjalanan terus menurun lebih tajam menuju lurah surau baru. Jika dilurah tersebut dilepaskan pandangan kekiri dan kenanan akan kelihatan pemandangan yang menakjubkan, sawah bertingkat yang membentuk cekungan (lurah). Dari mudik ke hilir selepas mata memandang hanya sawah yang menggiurkanlah yang tampak.
dsc08836
Setelah melepas lelah sejenak di Lurah Surau Baru ini, dilanjutkan perjalanan ke Timur yang mulai mendaki, didepan sekitar 250 meter telah dihadiahkan pemadangan yang lain yang tak kurang rancaknya, pemandangan dari Kampuang Kubang Turak ini, kekiri terlihat sawah bersusun rapih teratur kebawah meliuk di lurah kecil. Kalau pandangan kekanan sawah bertingkat dari sisi lain, bertingkat keatas dengan latar belakang jauh sekitar satu setengah kilo meter bertengger Bukik Bulek menggoda, yang dengan sabar menunggu para pelancong menikmati keindahan pemandangan alam pegunungan dan udara bersih buat mengusik ke relung paru-paru yang telah lama disesakkan oleh berbagai polusi ditempat tugas keseharian.
Didepan Kubang Turak, telah menunggu beberapa rumah tua di desa Kincia Simpang dekat Jabua, karena jalan kini menurun menuju Jabua, hulu sungai Batang Agam dan Batang Hari. Air Jabua ini mengalir jauh ke Timur sana melintasi 80% pinggang Sumatra melewati propinsi Sumbar dan Propinsi Jambi sebelum bermuara ke Selat Berhala.
Kini dapat dinikmati lagi liukan Jabua yang bertebing curam dikiri kanannya, tapi dimana kita lewati ini seolah Jabua bersahabat dengan menghadiahkan kelandaian, sehingga dapatnya tersusun beberapa sawah penduduk. Dari Jabua pendakian kini dimulia lagi. Jalan mendaki agak tajam dan dikiri kanan masih ada sawah yang agak kecil-kecil karena berada di kemiringan. Jalan dibelokkan kenan sebelum menjumpai surau Banto. Tempat melaksanakan Suluak (berdiskusi dan bermunajat langsung dengan sang Khalik, untuk beberapa hari). sayang suluak ini kurang populer untuk generasi kini, sehingga hanya tinggal cerita dari orang tua saja. Pada hal dulu ditahun 50/60 an surau ini dikunjungi oleh jemaah dari beberapa tempat. Ada yang datang dari jauh, yang khusus datang untuk dapat mendekatkan diri kepada sang Pencipta.
Surau Banto adalah pintu gerbang memasuki desa Cangkiang, desa yang mempunyai petani yang ulet, sehingga terkenal dapat menggarap tanah sampai jauh menyeberang ke Situjuah didaerah Payokumbuah. Beberapa rumah gadang tua masih dijumpai disini, menunjukkan bahwa desa ini telah dihuni sejak ratusan tahun lalu.
Jalan di Cangkiang mendatar, menawarkan beristirahat untuk melanjutkan pendakian seterusnya. Setelah di Cangkiang yang panjangnya sekitar 350 meter, jalan kembali menurun ke simpang Bungin. Simpamg bungin adalah pertemuan jalan lain menuju Bukik Bulek, yang dapat ditembus dari Baso, Koto Tinggi, berbelok kekanan di Lanbau. Dikanan bungin akan kelihatan surau Cubadak menunggui perswahan sempit dipinggang tebing, yang bertingkat tinggi.
Dari Bungin , perseneling harus diturunkan ke gigi 2 dan bersiapsiap memakai gigi 1, karena pendakian berkelok meliuk melalui kebun kulik manih (acasiaverra) dikiri kana jalan dimulai. Beberapa ratus meter berbelok kiri-kanan sambil menanjak, hanya kebun kulik manih dan diselinggi beberapa pohon rindang yang ditemui. Sebelum memasukki desa Galundi, dipendakian tajam anda akan disuguhi tanah merah, yang betul-betul merah, sebaiknya berhenti sebentar untuk sampling atau sekedar mengadakan pengamatan di “red clay” ini.
Setelah sekitar 500 meter berjalan meliuk dan menekuk dipendakian, sebaiknya sang sopir diberi waktu untuk beristirahan di jalan yang agak mendatar di desa Galundi ini. Mungkin Desa Galundi (Sidang Cubadak Bukik) ini adalah penganut agama yang kuat, walau dalam ketinggalan secara ekonomi dibanding sidang lain di Canduang, tapi telah berhasil membangun 3 masjid semenjak menyatakan diri berpisah dengan sidang Bingkudu di tahun 60-an. Sedang sidang Bingkudu, masih memakai masjid peninggalan nenek moyang masyarakat V Suku sampai saat ini.
300 meter dari Tanah Merah, anda akan menemui Masjid yang ke Tiga dari Sidang Cubadak Bukik, yang kini disebut sidang 100 janjang. Kalau dipikir dan direnungkan, membangun masjid ini memang perlu ketabahan dan keyakinan. Jika dilihat masyarakatnya, seolah tidak mungkin akan menyelesaikan Masjid seperti ini. Tapi ditempat lain satu saja susah, tapi disini sudah yang ketiga. Walau desa ini terasa tertinggal secara ekonomi, jangan dikira hal yang sama dibidang pendidikan. Desa ini telah menelurkan beberapa sarjana dari Unand dan Unri, yang kini bertugas sambil merantau dan berjuang dinegeri orang. Di Dumai saja ada sekitar 10 keluarga yang berasal dari 100 janjang ini.
Kilang tabu
Didepan kini jalan agak landai, seakan memberi kesempatan untuk kendaran bernafas lega, sehingga sisupir juga dapat agak rileks memainkan gas dan persenilingnya. Sekitar 50 meter dari simpang masjid 100 janjang ini, dikiri jalan anda disuguhi sawah lakuang yang berjejer rapi memberi suatu suasana ………….. hmmm indahnya. Dibalik sawah di Barat terlihat jejaran rumah penduduk di desa Sandaran. Kini jalan yang ditempuh betul dipuncak dilereng bukik bulek, setelah sampai di Parik Rampuang dan Guguak anda sadar bahwa dikiri kanan anda adalah lurah yang bertebing agak curam. Walaupun demikian, kayu manih masih bersahabat berdaun merah menghiasi dedaunan hijau dari dahan atau tanaman yang lainnya.
Kini anda telah meninggalkan masjid 100 janjang sekitar 300 meter dan berada didesa Bonjo, dikiri kanan berjejer rumah penduduk yang mengubah suasana menjadi terasa didalam desa padat. Kampuang Bonjo adalah bagian dari umpuak Surau Kariang, surau yang terdapat dikanan jalan setelah melewati desa Bonjo. Sesudah surau Kariang akan ditemui simpang kecil “Simpang Gantiang”, simpang tempat jalan tembus menyeberang ke kecamatan Baso.
Karena mayoritas sawah disini adalah sawah tadah hujan, maka dulu dizaman doeloe, air ditumpuk, ditampung atau dibendung, sehingga tempat penampungan air tersebut masih terkenal dengan nama Ganangan, nan bersebelahan dengan desa Rawang. Dibelakang Rawang ini telah kelihatan dikanan di ketinggian tebing dari Bukik Bulek.
rmh-gdg-bonjo

Kini si supir harus menyiapkan perseneling 2 dan siapsiap juga menukar ke perseneling satu, karena jalan patahpatah mendaki Bukik Bulek yang sebenarnya kini dimulai. Disetaip anda melewati patahan yang berbelok kekanan. bila dapat berhenti sejenak dan memandang kesebelah kiri. ………….. Ya Allah alangkah indahnya ciptaanMu ini. Anda dapat mulai menarik nafas kekaguman, hamparan perkampungan , perkebunan dan persawahan yang hijau dan bersambungsambung walau melewati celah bukit barisan.
Jalan yang menantang sopir ini akan berlanjut sampai kepuncak Bukik Bulek, yang juga tempat berlokasi antene microwave dari Telkom. Dari Puncak bila anda memandang ke Timur, lereng bukit yang berlapis hijau, sungguh indah untuk dinikmati, ke Selatan pandangan dapat melantun sampai kiliku bukit barisan, dari Kota Bukittinggi di Barat terus Gaduik, Tilatang Kamang, Kapau Salo, Baso, Sungai Janiah, Simarasok, Padang Tarok, Batu Ampa sampai kanagari Bundo di Suliki dan menerawang ka Lintau sampai Tabek Patah, Tanjuang Alam sampai ka Batu Sangka. Alangkah indah pandangan yang amat luas disana yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata walau sampai berjurai. Perlu untuk disaksikan dan dikunjungi. Bukik Bulek menunggu anda setia setiap saat.
Jika pandangan ditukiakan kebawah terlihat jelas kampuang dan jalan yang telah dilaui tadi, ingin untuk mengurutnya satu persatu kembali, sehingga kenangan tadi bisa diulangi dan direwind kembali. Bila pandangan di tukiaaaaakan ke Barat, dan dilihat agak teliti sedikit ada disana air mancur Jabua, yang hanya kelihatan dari puncak bukik Bulek kalau airnya besar. Bila Pandangan keselatan akan kelihatan hutan perawan dilereng gunung merapi yang terjal. Sehingga memang jarang dapat diseberangi oleh orang sembarangan.
Di Kaki gunung merapi itu ada jalan setapak yang diberi tanda sebagai jalan inspeksi, yang disebut jalan pancang. Yang merupakan jalan inspeksi dan perbatasan tanah yang boleh diolah dan hutan larangan yang berguna menahan air hujan. Hutan larangan ini, menurut peraturan tertulis dari zaman Belanda, kayunya tidak boleh diambil. Tracking melalui jalan ispeksi atau jalan pancang ini akan memberi hari perjalanan lain bagi yang suka forest tracking, dan penikmatan hutan lebat khatulistiwa yang merupakan bagian dari rain tropical forest.
Perjalanan dua hari ini baru melalui sekitar seperempat dari Nagari Canduang. Jadi perlu hari lain lagi untuk menjelajahi tempat yang lainnya. Apa lagi kalau seandainya wisata juga diarahkan ke Wisata Budaya, sehingga diperlukan hari yang lain dan berkelanjutan.
Kami menunggu anda sekalian di Nagari kami tercinta, nagari Canduang. Di Candaung yang namanya di pakai sebagai nama kecamatan Canduang, juga terdapat desa yang bernama Canduang. Perlu wisata budaya untuk menelusuri ini semua. Sampai Jumpa.
Wassalamualaikum Ww
Darul M. St. Parapatiah
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.